Saudaraku tercinta..
Biarkan aku mengusap air mata yang tak henti menetes
Jika kau tahu apa yang melandaku, kau 'kan memaklumiku
Seolah aku terlempar di atas pembaringan di tengah- tengah keluarga
Sementara lengan-lengan mereka mombolak-balikkan tubuhku
Seolah aku disekeliling orang yng meratap, menangisi kematianku
Mereka datng membawa dokter untuk mengobatiku
Tapi, hari ini, tak satupun dokter bermanfaat bagiku
Parah sudah kondisiku
Tanpa ampun, kematian memreteli urat-uratku
Air liurku terasa pahit saat itu
Nyawaku hendak hengkang dari ragaku
Mereka memejamkan mataku
Semua pergi meninggalkanku
Sementara aku, putus asa dengan kondisi burukku
Perlahan, ke liang kubur mereka menurunkanku
Mereka menyuruh seorang untk menguburku
Membuka kain dari wajahku
Dari kedua matany air mata mengucur
Ia berdiri dengan raut menyala bak cairan membara
Di atasku, ia membariskan batu bata
Ia berucap, "Hamburkanlah tanah padanya.Sebaik-baik balasan dari yang kuasa."
Abdul Malik Al-Qasim, Nafas Terakhir(solo, 2009), hal.93-94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar