Jumat, 20 Mei 2011

Renungan

Saudaraku tercinta..

Biarkan aku mengusap air mata yang tak henti menetes

Jika kau tahu apa yang melandaku, kau 'kan memaklumiku

Seolah aku terlempar di atas pembaringan di tengah- tengah keluarga

Sementara lengan-lengan mereka mombolak-balikkan tubuhku

Seolah aku disekeliling orang yng meratap, menangisi kematianku

Mereka datng membawa dokter untuk mengobatiku

Tapi, hari ini, tak satupun dokter bermanfaat bagiku

Parah sudah kondisiku

Tanpa ampun, kematian memreteli urat-uratku

Air liurku terasa pahit saat itu

Nyawaku hendak hengkang dari ragaku

Mereka memejamkan mataku

Semua pergi meninggalkanku

Sementara aku, putus asa dengan kondisi burukku

Perlahan, ke liang kubur mereka menurunkanku

Mereka menyuruh seorang untk menguburku

Membuka kain dari wajahku

Dari kedua matany air mata mengucur

Ia berdiri dengan raut menyala bak cairan membara

Di atasku, ia membariskan batu bata

Ia berucap, "Hamburkanlah tanah padanya.Sebaik-baik balasan dari yang kuasa."





Abdul Malik Al-Qasim, Nafas Terakhir(solo, 2009), hal.93-94

Tabel Perkalian 1-10